Review Film Norma Terbaru , Mereka yang Kita Sayangi, yang Paling Mampu Melukai
Film Norma: Antara Mertua dan Menantu menjadi salah satu karya yang mencuri perhatian pada musim Lebaran 2025. Mengangkat kisah nyata Norma Risma, film ini mengisahkan tragedi rumah tangga yang penuh konflik emosional dan menguras air mata. Dengan alur cerita yang menggelitik perasaan, film ini layak mendapat sorotan lebih.

Latar Belakang Cerita
Kisah nyata Norma Risma yang mendapati suaminya, Irfan, berselingkuh dengan ibu kandungnya sendiri, Rina, sudah viral sebelumnya. Cerita tersebut menghebohkan publik dan membuat banyak orang merasa geram sekaligus terharu dengan kondisi Norma. Fakta bahwa suami dan ibu kandung melakukan perselingkuhan menciptakan konflik yang sulit diterima oleh akal sehat. Oleh karena itu, mengangkat cerita ini ke layar lebar adalah keputusan berani namun menarik.
Alur Cerita dan Pengemasan Konflik
Film ini diawali dengan kehidupan rumah tangga Norma yang tampak harmonis. Norma, diperankan oleh Tissa Biani, adalah wanita muda yang penuh kasih sayang. Irfan (Yusuf Mahardika), suaminya, adalah pria sederhana yang terlihat mencintai keluarga kecilnya. Namun, di balik keharmonisan itu, ada perselingkuhan yang melibatkan orang terdekat Norma, yakni ibunya sendiri, Rina (Wulan Guritno).
Lagu “Merah” dari band Monkey to Millionaire menjadi salah satu elemen penting dalam menggambarkan perasaan Norma. Penggalan lirik, “mereka yang kita sayangi, yang paling mampu melukai,” terasa begitu menggambarkan inti konflik dalam film ini.
Film ini berhasil menggambarkan konflik keluarga dengan sangat baik. Sutradara tidak berusaha melebih-lebihkan drama, mengingat kisah nyata ini sendiri sudah penuh dengan konflik emosional. Hal ini membuat film tetap terasa nyata dan tidak terkesan dibuat-buat.
Akting yang Menawan
Ketika berbicara tentang kekuatan akting, ketiga pemeran utama pantas mendapatkan pujian. Tissa Biani mampu memerankan sosok Norma dengan penuh penghayatan. Rasa kecewa, marah, dan sedih tercermin dengan jelas melalui ekspresi wajahnya. Yusuf Mahardika sebagai Irfan juga memberikan akting yang cukup memukau, terutama dalam adegan konfrontasi dengan Norma.
Namun, sorotan utama justru tertuju pada Wulan Guritno yang memerankan Rina. Sebagai ibu yang terlibat skandal dengan menantu, Wulan berhasil menampilkan sisi kelam namun tetap manusiawi. Ia tidak hanya memainkan peran sebagai pelaku, tetapi juga sebagai wanita yang tersesat dalam rasa sayangnya yang salah arah.
Skenario yang Kuat dari Oka Aurora
Di kursi penulis skenario ada Oka Aurora, seorang penulis yang sudah banyak menghasilkan naskah drama penuh emosi. Oka berhasil menyajikan naskah dengan dialog yang tajam dan tidak berlebihan. Cerita yang sudah kontroversial ini dikemas dengan nuansa yang tetap menghormati penonton tanpa merusak esensi kisah aslinya.
Baca juga:Rekomendasi Film Bioskop Terbaru Maret 2025 dari Indonesia hingga Hollywood
Dialog antara Norma dan Rina dalam satu adegan konfrontasi terasa sangat hidup dan penuh emosi. Kedalaman naskah membuat film ini tidak hanya sekadar menampilkan cerita tragis, tetapi juga menggali perasaan terdalam para tokoh. Hal ini membuat penonton ikut merasakan kekecewaan Norma tanpa harus membuat Rina tampil sebagai antagonis murni.
Pengemasan Visual dan Sinematografi
Secara visual, film Norma: Antara Mertua dan Menantu menawarkan sinematografi yang tidak terlalu mencolok namun efektif dalam menyampaikan suasana. Penggunaan tone warna yang cenderung netral dan redup memperkuat suasana kelam dari cerita itu sendiri. Pihak produksi juga pandai memanfaatkan simbol-simbol visual, seperti bayangan dan cahaya redup saat Norma mulai menyadari pengkhianatan.
Musik latar menjadi elemen penting lainnya. Pemilihan lagu Monkey to Millionaire dengan lirik “mereka yang kita sayangi, yang paling mampu melukai” memberikan efek emosional yang mendalam pada adegan klimaks. Lagu tersebut seolah menggambarkan kepedihan yang dirasakan Norma.
Respons Publik dan Potensi Film
Sejak kisah nyata Norma Risma pertama kali mencuat ke publik, banyak yang merasa empati sekaligus marah. Film ini membawa kembali memori itu dengan cara yang lebih tertata dan mendalam. Respons penonton juga cukup positif, terutama pada bagaimana film ini menyampaikan pesan tentang pengkhianatan dari orang terdekat.
Secara komersial, film ini berpotensi besar menguasai layar bioskop pada momen Lebaran 2025. Selain ceritanya yang kontroversial namun nyata, ada kekuatan dari sisi produksi, mulai dari akting, skenario, hingga tata suara yang mendukung atmosfer cerita.
Kesimpulan
Norma: Antara Mertua dan Menantu adalah film yang berhasil menyampaikan kisah nyata dengan sentuhan emosional yang dalam. Pengemasan yang tidak terlalu didramatisir menjadi poin positif karena justru memperkuat realisme cerita. Kombinasi akting memukau dari Tissa Biani, Yusuf Mahardika, dan Wulan Guritno membuat film ini semakin hidup.
Di tengah banyaknya film Lebaran yang menawarkan hiburan ringan, Norma: Antara Mertua dan Menantu hadir sebagai film yang menggugah perasaan dan memberikan pelajaran hidup. Film ini bukan hanya soal pengkhianatan, tetapi juga tentang keberanian bertahan menghadapi kenyataan pahit dari orang yang kita cintai.